Program Sekolah Gratis dan
Berobat Gratis yang pernah dijanjikan Sang Gubernur waktu kampanye pun menjadi
pertaruhan reputasi dan moral baginya. Implementasi program tersebut sangat
ditunggu-tunggu masyarakat. Tahun demi tahun berjalan, sebagian rakyat Sumsel
merasakan manfaat pelaksanaan program tersebut. Namun sebagian lagi
mencemoohnya karena dianggap tidak berjalan dengan baik. Tak perlu sulit untuk
ditebak, aku berada pada barisan orang-orang yang mencemooh kedua program
tersebut khususnya Program Berobat Gratis.
Bertahun-tahun aku berada dalam
kelompok masyarakat yang apatis dengan janji pelaksanaan Program Berobat Gratis.
Bagaimana tidak, dalam pandanganku, masyarakat berobat ke Puskesmas di Kota
Palembang masih saja bayar setidaknya Rp. 2000. Gratis dari mana? Begitu seterusnya
anggapanku terhadap salah satu Program Unggulan Pemprov tersebut, hingga datang
tahun 2011.
Pada tahun itu aku baru saja memiliki
keponakan yang lahir di akhir tahun 2010. Seorang keponakan laki-laki yang
sehat, lucu dan lincah anak dari adik bungsuku. Namun ketika keponakanku masuk
pada usia yang ke-7 bulan, ia sering menangis kesakitan. Setelah diperiksakan
ke dokter ternyata keponakanku memiliki hernia
(penyakit yang biasa dinamai dengan usus turun) di bagian kanan bawah perutnya.
Dokter menyarankan agar keponakanku segera melakukan operasi. Kata dokter,
hanya dengan operasi hernia itu bisa
disembuhkan.
Orang tua keponakanku adalah
orang-orang sederhana yang berpendapatan pas-pasan. Sementara operasi hernia memerlukan biaya yang lumayan
besar. Kabarnya untuk melakukan operasi tersebut diperlukan biaya sebesar 7
sampai 10 juta Rupiah. Jumlah itu sungguh merupakan sebuah angka yang amat
besar untuk segera didapatkan dalam jangka waktu yang cepat bagi adikku dan
suaminya. Mereka kebingungan memikirkan bagaimana cara menghadirkan dana
sejumlah itu dengan cepat padahal kebutuhan operasi ini sudah mendesak
mengingat keponakanku semakin sering menangis karena merasa kesakitan.Setelah mendapat informasi, adikku segera mengurus semua keperluan administrasi yang dibutuhkan. Prosesnya tak lama, setelah pengurusan administrasi selesai, keponakanku segera diinapkan di RS Muhammadiyah. Selang beberapa hari kemudian, proses operasi hernia keponakanku dilakukan. Operasi pun berjalan lancar. Keponakanku pun akhirnya sembuh dari hernia yang dialaminya dan kembali ceria. Kedua orang tuanya pun juga gembira karena anaknya kembali sehat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Berobat gratis memang benar-benar gratis.
Memang ada beberapa hambatan
dalam pelaksanaan program ini. Hambatan-hambatan itu antara lain misalnya
kurang seriusnya pemerintah tingkat Kabupaten/Kota dalam menjalankan
implementasi kedua program ini di daerahnya masing-masing sehingga pelayanan
terhadap masyarakat untuk program ini terkesan setengah-setengah, lambat, dan
bertele-tele. Belum lagi tidak dilengkapinya fasilitas dan tenaga medis pada
Rumah Sakit Daerah di berbagai Kabupaten membuat banyak pasien yang akhirnya
terpaksa dirujuk ke RSMH Palembang.
Selain itu, pengurusan administrasi awal yang merupakan bagian dari rangkaian prosedur pelaksanaan program berobat gratis sering dianggap masyarakat sebagai hal yang merepotkan. Padahal proses pengurusan administrasi ini adalah sebuah hal penting agar petugas-petugas pelaksana program ini dapat memastikan bahwa yang berobat tersebut adalah benar warga Sumsel yang berhak menggunakan fasilitas program berobat gratis. Sesungguhnya mengurus administrasi pada program Jamsoskesmas seharusnya tidaklah sulit. Hanya diperlukan fotokopi KTP, KK, dan Surat Keterangan Dari Kelurahan. Semua seharusnya berjalan lancar dan cepat apabila perangkat petugas yang menanganinya bekerja secara profesional.
Hambatan yang paling parah pada program ini adalah
banyaknya pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum tak
bertanggung jawab dalam pelaksanaan kedua program gratis ini. Pungli-pungli
ini-lah yang membuat pandangan masyarakat buruk terhadap pelaksanaan kedua
program tersebut. Ibarat kata pepatah ‘gara-gara nila setitik rusak susu
sebelanga’, begitulah nasib kedua program itu di mata sebagian besar masyarakat
akibat adanya pungli-pungli yang marak di berbagai daerah di Sumsel ini. Selain itu, pengurusan administrasi awal yang merupakan bagian dari rangkaian prosedur pelaksanaan program berobat gratis sering dianggap masyarakat sebagai hal yang merepotkan. Padahal proses pengurusan administrasi ini adalah sebuah hal penting agar petugas-petugas pelaksana program ini dapat memastikan bahwa yang berobat tersebut adalah benar warga Sumsel yang berhak menggunakan fasilitas program berobat gratis. Sesungguhnya mengurus administrasi pada program Jamsoskesmas seharusnya tidaklah sulit. Hanya diperlukan fotokopi KTP, KK, dan Surat Keterangan Dari Kelurahan. Semua seharusnya berjalan lancar dan cepat apabila perangkat petugas yang menanganinya bekerja secara profesional.
Hambatan dan rintangan yang ditemui Pemprov dalam menerapkan program ini selayaknya harus segera dibenahi di kemudian hari agar implementasi program berobat gratis ini mampu disempurnakan dan benar-benar menjadi jaminan bagi kelangsungan hidup rakyat Sumsel. Saya percaya Pemprov mampu lakukan apa yang diharapkan oleh setiap lapisan masyarakat Sumsel ini.
masa pemerintahan Bapak Alex Noerdin akan segera habis tahun 2013 ini. Beliau akan maju lagi untuk lanjutkan pembangunan di Sumsel. Salah satu janji beliau sekarang yang saya akan ingat seterusnya jika beliau terpilih adalah “Menyempurnakan Sekolah Gratis dan Berobat Gratis”. Saya yakin beliau tidak akan ingkar janji, karena sebelumnya juga tidak. Apalagi tahun ini akan dimulai pembangunan Rumah Sakit milik Provinsi yang akan dilengkapi dengan fasilitas yang canggih. Tentu saya akan mendukung Pak Alex Noerdin melanjutkan rencana ini. Semoga Sumsel semakin gemilang.



