| SUASANA PRJ |
Liputan6.com, Jakarta : Berita Terbaru Dan Terpopuler DI Jakarta Peresmian pembukaan Jakarta Fair ke-46 diramaikan dengan sejumlah pertunjukan. Setelah diresmikan Presiden SBY, dilanjutkan dengan pesta kembang api, pagelaran tari Betawi, hingga drama musikal yang bercerita tentang sejarah Kota Jakarta.
Dalam pagelaran drama musikal yang digelar di panggung utama, salah seorang pengisi acara yang menyanyikan lagu Kicir-kicir dengan mengubah lirik lagu daerah Betawi tersebut.
Lagu yang terkenal sejak zaman penjajahan itu, dinyanyikan dengan lirik yang disesuaikan dengan program-program kerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi, seperti Kartu Jakarta Pintar dan MRT. Salah satu petikan lirik gubahan tersebut adalah 'Bang Gubenur, punya program hebat, kalau sakit ya nona pake Kartu Jakarta Sehat'.
Selain itu, artis senior, Titiek Puspa yang terlibat dalam drama musikal juga tak mau kalah dalam memuji kinerja Jokowi-Ahok dalam memimpin Jakarta. Lagu Gang Kelinci yang identik dengan dirinya pun digubah syairnya menjadi bentuk dukungan kepada Jokowi.
"Selamat tugas Bang Jokowi, Bang Ahok. Jokowi, Ahok, Ahok. Jokowi, Ahok, Ahok. Jokowi, Ahok, Ahok, We Love You. Jokowi, Ahok, Ahok, God Bless You," kata Titiek Puspa yang langsung ditimpali senyum tipis oleh Jokowi yang duduk di barisan depan kursi penonton bersama SBY, Hatta Rajasa, dan Komisaris Utama Jakarta Fair Murdaya W Poo.
Sementara artis Rio Febrian yang tercatat sebagai artis utama pada malam pembukaan Jakarta Fair ini juga tampil memukau. Rio membawakan lagu 'Ku Yakin Sampai di Sana'. Lagu karangan SBY ini dinyanyikan Rio sekaligus menutup acara pembukaan Jakarta Fair 2013. (Frd)
Website Liputan6.com
| #KlikLiputan6 |
Menarik membaca berita dan ulasan sejumlah media online sehari teakhir ini soal ribut-ribut pelarangan tayang program investigasi Sigi di SCTV. Disebut-sebut ada campur tangan Menkum Ham Patrialis Akbar dibalik pembatalan tersebut. Konon pak menteri tak berkenan ‘cacat’ instansi di bawah kementriannya dibongkar ke publik.
Disebutkan pula pembatalan tersebut dilakukan manajemen SCTV setelah ‘didatangi’ utusan Menkum Ham ke markas Liputan 6 di kawasan Senayan. Ujungnya bisa ditebak, sang pemilik tak mau ikut kena getah masalah, dan diturunkanlah program Sigi dari jadwal tayang Rabu malam lalu. Padahal seharusnya Sigi akan mengungkap habis transaksi seks di dalam penjara lewat investigasinya yang berjudul “Bisnis Seks di Balik Jeruji Penjara”.
Diributkan di media jelas pihak-pihak yang berkepentingan membantah. Menkum Ham langsung menolak dikatakan telah melakukan intervensi sedemikian dalamnya di dapur redaksi Liputan 6. Kepada Tempo Interaktif Patrialis menyatakan, “Kalau pembatalan tayangan itu dikatakan karena permintaan saya, pernyataan tersebut fitnah seribu persen. Saya tak pernah menghubungi orang SCTV terkait program Sigi.” Patrialis juga menegaskan tidak mengenal pemilik SCTV Fofo Sariatmaja terkait masalah ini.
Patrialis meradang setelah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menuding ia campur tangan ke tubuh redaksi Liputan 6 meminta agar program Sigi tak ditayangkan. “Tindakan itu melanggar Pasal 4 (ayat 2) UU Pers Nomor 40 Tahun 1999,” kata Koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta Aditya Heru Wardhana. Pasal itu berisi ketentuan bahwa terhadap Pers Nasional tak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran.
Okelah mentri Patrialis punya hak membantah, tapi jangan lupa AJI juga pastinya tak sembarang tuduh untuk kasus yang super serius ini. AJI pasti punya bukti atau setidaknya informasi yang cukup sahih mengenai pelarangan tayang tersebut.
Terus terang meski tak terlalu kaget dengan berita semacam ini, saya tetap menyesalkan mengapa pelarangan tayang sebuah program berita tv masih ada di negeri ini. Jika ini benar, sepertinya kita terlempar kembali ke masa Orde Baru dimana rambu-rambu yang boleh dan tidak boleh sebuah informasi diberitakan sangat tidak jelas. Represi macam ini jelas dalam skala kecil mengancam keberadaan bangunan demokrasi negeri ini. Sebuah usaha yang masih terus diupayakan banyak kalangan.
Bagi praktisi media jelas ini sebuah bencana. Sebuah lembaga terhormat ’sebesar’ redaksi Liputan 6 saja bisa tunduk pada kekuasaan dan modal. Bagaimana dengan redaksi lain yang relatif belum sebesar namanya dari Liputan 6?
Bagi Liputan 6 SCTV ini merupakan tragedi. Sebuah kredibilitas dipertaruhkan begitu rupa. Padahal untuk membangun kredibilitas media bukan perkara mudah. Butuh perjuangan bertahun-tahun, butuh waktu yang tidak pendek. Ibarat kata, harus ‘berdarah-darah’ dulu agar publik percaya pada kredibilitas media yang dibangun.
Apa yang terjadi kini Liputan 6 meruntuhkan kredibilitasnya sendiri. Sebuah kenyataan pahit, karena sebelumnya Liputan 6 SCTV dikenal sangat vokal, berani berhadap-hadapan dengan penguasa dalam berbagai kasus.
Karenanya, Apni seorang mantan awak SCTV di akun twitternya menuliskan kegeramannya. Salah satunya berbunyi begini “Kasihan liputan 6 SCTV ditekan penguasa dan pengusaha sekaligus. Lawan. Kalian punya sejarah melawan rezim.”
Apni juga mengingatkan bahwa dulu mereka berani ‘melawan’ siapapun, termasuk rencana pencaplokan SCTV oleh penguasa, “Di era @RizaPrimadi Liputan6 bahkan sempat mau dicaplok Habibie. Kalian pernah menggagalkan pemred bentukan Baramuli.”
Apni sebagai orang yang pernah terlibat membangun SCTV tentunya geregetan melihat kondisi yang dihadapi Liputan 6 saat ini. Ia pastinya selain geram juga menyayangkan mengapa kondisi begitu mudah berubah, dan tentunya merubah ‘kawan-kawannya’ yang masih ada di dalam.
Jika kita buka sejarah media tv tanah air, publik di tanah air setidaknya mencatat betapa ‘hebatnya’ Liputan 6 SCTV di ujung masa Orde Baru. Di detik-detik jatuhnya pemerintahan Soeharto tahun 1998, saya ingat sekali Liputan 6 menampilkan wawancara yang dikategorikan ‘berani’ pada masanya. Saat itu Host Liputan 6 Ira Koesno mewawancarai mantan menteri Orde Baru, Sarwono Kusumaatmaja soal pemerintahan Soeharto. Dalam Wawancara itu Sarwono mengibaratkan pemerintahan Soeharto saat itu sebagai pemerintahan yang sakit gigi. Jika giginya sakit, cabut saja giginya, begitu antara lain Sarwono berargumen.
Wawancara itu kemudian melambungkan Liputan 6 SCTV sebagai redaksi pemberitaan terdepan. Rating dan share program ini meroket meninggalkan program sejenis milik stasiun tv lain. Sayapun -dan mungkin peminat berita lainnya- Liputan 6 sebagai program berita wajib tonton. Karena untuk berita politik tergolong berani dan terdepan.
Seiring perubahan waktu, perubahan arah politik dan bisnis, berubah pula sebuah kredibilitas. Sejumlah jurnalis handal SCTV satu persatu kemudian hengkang. Ada persoalan internal yang sayup-sayup saya dengar. Mulai dari tangan ‘pemodal’ yang makin perkasa, perubahan orientasi bisnis hingga kabar awak redaksi yang sulit disetir. Semuanya nyaris tak terjawab, dan publik pun hanya bisa menduga-duga.
Namun yang kemudian terjadi, perlahan posisi terhormat Liputan 6 sebagai stasiun tv yang aktual, tajam, terpercaya meredup. Secara isi, Liputan 6 tak lagi dijadikan referensi tontonan. Kredibilitas yang berhasil dibangun dengan ‘darah’ dan ‘air mata’ kini tinggal kenangan. Setidaknya kasus program Sigi makin mengentalkan hal itu.
SCTV (Surya Citra Televisi) adalah sebuah stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Pada tahun 2011, Indosiar dan SCTV telah ber-merger yang salah satu langkahnya yaitu memindahkan sebagian program di SCTV ke Indosiar.
SCTV (awalnya singkatan dari 'Surabaya Central Televisi'), bermula dari Jl. Darmo Permai, Surabaya, Agustus 1990, siaran SCTV diterima secara terbatas untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan) yang mengacu pada izin Departemen Penerangan No. 1415/RTF/K/IX/1989 dan SK No. 150/SP/DIR/TV/1990. Satu tahun kemudian, 1991, pancaran siaran SCTV meluas mencapai Pulau Dewata, Bali dan sekitarnya.

Baru pada tahun 1993, berbekal SK Menteri Penerangan No 111/1992 SCTV melakukan siaran nasional ke seluruh Indonesia. Untuk mengantisipasi perkembangan industri televisi dan juga dengan mempertimbangkan Jakarta sebagai pusat kekuasaan maupun ekonomi, secara bertahap mulai tahun 1993 sampai dengan 1998, SCTV memindahkan basis operasi siaran nasionalnya dari Surabaya ke Jakarta.
Pada tahun 1999 SCTV melakukan siarannya secara nasional dari Jakarta. Sementara itu, mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang kian mengarah pada konvergensi media SCTV mengembangkan potensi multimedianya dengan meluncurkan situs http://www.liputan6.com, http://www.liputanbola.com Melalui ketiga situs tersebut, SCTV tidak lagi hanya bersentuhan dengan masyarakat Indonesia di wilayah Indonesia, melainkan juga menggapai seluruh dunia. Dalam perkembangan berikutnya, melalui induk perusahaan PT. Surya Citra Media tbk (SCM), SCTV mengembangkan potensi usahanya hingga mancanegara dan menembus batasan konsep siaran tradisional menuju konsep industri media baru.
SCTV menyadari bahwa eksistensi industri televisi tidak dapat dipisahkan dari dinamika masyarakat. SCTV menangkap dan mengekspresikannya melalui berbagai program berita dan feature produksi Divisi Pemberitaan seperti Liputan 6 (Pagi, Siang, Petang dan Malam), Buser, Topik Minggu Ini, Sigi dan sebagainya. SCTV juga memberikan arahan kepada pemirsa untuk memilih tayangan yang sesuai. Untuk itu, dalam setiap tayangan SCTV di pojok kiri atas ada bimbingan untuk orangtua sesuai dengan ketentuan UU Penyiaran No: 32/2002 tentang Penyiaran yang terdiri dari BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa) dan SU (Semua Umur). Jauh sebelum ketentuan ini diberlakukan, SCTV telah secara selektif menentukan jam tayang programnya sesuai dengan karakter programnya.
Dalam kurun waktu perjalanannya yang panjang, berbagai prestasi diraih dari dalam dan luar negeri antara lain: Asian Television Awards (2004 untuk program kemanusian Titian Kasih (Pijar), 1996 program berita anak-anak Krucil), Majalah Far Eastern Economic Review (3 kali berturut-turut sebagai satu dari 200 perusahaan terkemuka di Asia Pasific), Panasonic Awards (untuk program berita, pembaca berita dan program current affair pilihan pemirsa) dan sebagainya. Semua itu menjadikan SCTV kian dewasa dan matang. Untuk itu, manajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali identitas dirinya sebagai stasiun televisi keluarga. Maka sejak Januari 2005, SCTV mengubah logo dan slogannya menjadi lebih tegas dan dinamis: Satu Untuk Semua.
Melalui 47 stasiun transmisi, SCTV mampu menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial pemirsa. Dinamika ini terus mendorong SCTV untuk selalu mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia agar dapat senantiasa menyajikan layanan terbaik bagi pemirsa dan mitra bisnisnya.
SCTV telah melakukan transisi ke platform siaran dan produksi digital, yang merupakan bagian dari kebijakan untuk secara konsisten mengadopsi kecanggihan teknologi dalam meningkatkan kinerja dan efsiensi operasional. Dalam semangat yang sama, kebijakan itu telah meletakkan penekanan yang kokoh pada pembinaan kompetensi individu di seluruh aspek untuk mempertajam basis pengetahuan seraya memupuk talenta, kreativitas dan inisiatif. Inilah kunci untuk memperkuat posisi SCTV sebagai salah satu dari stasiun penyiaran terkemuka di Indonesia.



